Optimasi suhu amplifikasi DNA pada quantitative polymerase chain reaction untuk identifikasi Mycobcterium tuberculosis resistan isoniazid

10 Halaman

Penulis

, , , , ,

ISSN

2985-4784

Penerbit

Institut Pertanian Bogor

Diterbitkan pada

15/06/2024

Bahasa

Indonesia

Kata Kunci

, , , ,

Abstrak

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan merupakan ancaman serius bagi kesehatan global. Metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bakteri penyebab TB adalah quantitative polymerase chain reaction (qPCR). Pada metode ini, suhu denaturasi dan ekstensi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan yang perlu dioptimalkan. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi suhu denaturasi dan ekstensi pada amplifikasi DNA M. tuberculosis. Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen. Suhu yang dioptimasi adalah 93, 94, 95, 96, dan 97°C untuk denaturasi dan 58, 59, 60, 61, dan 62°C untuk ekstensi. Sampel uji adalah sampel dahak sebanyak 1 mL yang dikoleksi dari pasien dengan M. tuberculosis yang resistan terhadap isoniazid. Optimasi dilakukan menggunakan tujuh primer uji, yaitu S315T, S315N, S315I, S315R, S315G, S315L, dan R463B dengan target gen katG. Data hasil optimasi diolah dengan MS Excel dengan mengambil nilai Ct paling rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu optimal untuk denaturasi berbeda-beda untuk setiap primer yang digunakan. Primer S315T, S315R, dan S315G optimal pada suhu denaturasi 96°C, primer S315N optimal pada 94°C, primer S315I dan R463B optimal pada 93°C, dan primer S315L optimal pada 95°C, dengan suhu yang paling banyak digunakan adalah 96°C. Suhu ekstensi optimal pada 58°C untuk primer S315T, S315N, S315I, dan R463B, pada 60°C untuk primer S315R dan S315G, dan pada 61°C untuk primer S315L. Dapat disimpulkan bahwa suhu optimal pada penelitian untuk denaturasi adalah 96°C dan untuk ekstensi adalah 58°C.

Kata Mereka

Testimoni Pengguna M3

Lebih Banyak